Pada hari Senin, 26 Januari 2026, telah terlaksana salah satu program kerja berupa Sosialisasi Literasi Keuangan Digital di Desa Piasa Wetan. Transformasi digital mengubah cara masyarakat mengelola uang, termasuk di desa. Warga kini berhadapan dengan pembayaran non tunai, layanan perbankan berbasis aplikasi, serta transaksi yang menuntut kecepatan dan keamanan. Mahasiswa KKN UNSOED melihat kondisi ini sebagai peluang untuk memperkuat literasi keuangan digital melalui sosialisasi yang aplikatif.
Mengapa harus pindah digital? Transaksi tunai memang mudah, tetapi memiliki keterbatasan. Pelaku usaha kecil sering kesulitan menyediakan uang kembalian. Pencatatan transaksi juga memakan waktu dan rawan kesalahan. Risiko kehilangan uang tunai lebih tinggi. Sistem digital membantu warga mencatat transaksi otomatis melalui aplikasi. Pelaku usaha dapat melayani pembeli lebih cepat dan memahami pemasukan harian secara jelas.
Indonesia juga mendorong percepatan transaksi digital. Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik terus meningkat setiap tahun. Desa perlu ikut bergerak agar tidak tertinggal. Literasi menjadi kunci karena teknologi tanpa pemahaman dapat menimbulkan risiko baru. Sosialisasi mahasiswa KKN UNSOED berfokus pada kebutuhan nyata warga desa. Program ini mengenalkan manfaat, cara penggunaan, serta potensi risiko layanan digital. Peserta mempraktikkan langsung transaksi menggunakan ponsel agar lebih percaya diri.
Materi utama adalah pembayaran QRIS. QRIS merupakan standar kode QR nasional yang memudahkan transaksi non tunai. Warga cukup memindai kode QR melalui aplikasi pembayaran. Sistem ini mendukung pedagang kecil karena tidak perlu mesin EDC. Warung, pedagang pasar, hingga UMKM desa dapat menerima pembayaran digital hanya dengan satu kode.
Mahasiswa memberi contoh konkret. Seorang pedagang jajanan sering kesulitan memberi uang kembalian saat pembeli membayar dengan pecahan besar. Dengan QRIS, pembeli membayar sesuai nominal dan uang langsung masuk ke rekening atau dompet digital. Proses ini menghemat waktu dan mengurangi kesalahan hitung. QRIS juga membantu pelaku usaha menjangkau konsumen yang terbiasa non tunai.
Materi berikutnya membahas transfer murah melalui BI Fast. BI Fast memungkinkan transfer antar bank dengan biaya rendah dan proses cepat. Banyak warga mengira transfer selalu mahal. Dengan BI Fast, warga dapat mengirim uang dengan biaya sekitar Rp2.500 per transaksi. Pelaku UMKM dapat membayar pemasok tanpa pergi ke ATM. Orang tua juga dapat mengirim uang kepada anak di luar kota dengan lebih efisien.
Program ini juga mengenalkan bank digital. Bank digital menyediakan layanan perbankan penuh melalui aplikasi. Warga dapat membuka rekening online, menabung, dan melakukan pembayaran langsung dari ponsel. Bank digital memperluas inklusi keuangan karena warga tidak perlu menempuh jarak jauh ke kantor cabang. Namun literasi digital harus disertai kewaspadaan. Sosialisasi menekankan bahaya jeratan pinjaman online ilegal yang menawarkan pencairan cepat tanpa syarat jelas. Warga perlu memeriksa legalitas penyedia pinjaman melalui OJK, memahami bunga dan tenor, serta menjaga data pribadi.
Mahasiswa juga mengajarkan keamanan transaksi digital seperti menjaga PIN dan OTP, menggunakan kata sandi kuat, serta waspada terhadap penipuan. Dampak program terlihat dari meningkatnya minat UMKM menggunakan QRIS, pemahaman warga tentang BI Fast, serta kesadaran memilih layanan resmi. Literasi keuangan digital menjadi keterampilan praktis yang membantu aktivitas ekonomi desa. Desa yang melek digital dapat mengelola ekonomi lokal lebih efektif, memperkuat usaha kecil, dan melindungi warga dari risiko finansial.